Di Tengah Pemalangan Jalan di Rante Balla, Ada Karyawan yang Cemas Masa Depan dan Keluarganya

Uncategorized24 Dilihat

Jagadnews.id | LUWU, – Bagi Ajay Fajar, bekerja di Proyek Awak Mas bukan sekadar mencari nafkah. Dari gaji yang diterimanya sebagai karyawan salah satu subkontraktor PT Masmindo Dwi Area (MDA), ia berjuang mewujudkan mimpinya meraih gelar sarjana sekaligus menjadi tulang punggung keluarga.

Pemuda asal Desa Sampeang ini merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Di tengah tanggung jawabnya membantu perekonomian keluarga, ia juga berusaha menyelesaikan pendidikan tinggi yang dibiayai dari hasil keringatnya sendiri.

Namun, perjuangan itu kini menghadapi tantangan. Sejak Jumat pagi (9/10/2026), aktivitas kerja Ajay terhenti akibat blokade jalan menuju Proyek Awak Mas di Desa Rante Balla. Bersama karyawan lainnya, dia masih menunggu kepastian dari manajemen perusahaan.

“Kalau tidak salah, mulai ditutup sejak Jumat pagi. Setelah ditutup, langsung tidak ada aktivitas pekerjaan sampai sekarang. Kami karyawan masih menunggu dari pihak manajemen seperti apa,” tuturnya, Selasa (13/10/2026).

Jay, begitu sapaannya, mulai bekerja di salah satu subkontraktor PT Masmindo pada 2025. Penghasilannya selama ini digunakan untuk dua kebutuhan utama, yakni membayar biaya kuliah dan membantu ekonomi keluarga.

Sejak 2023, dia menempuh pendidikan di Jurusan Hukum Universitas Andi Djemma (Unanda), Kota Palopo. Sejak awal kuliah, Jay mengaku membiayai pendidikannya sendiri dengan menyisihkan sebagian gaji untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT) sekitar Rp3 juta setiap semester.

“Dari awal memang saya biayai kuliah sendiri,” ujarnya.

Sebelum bekerja di perusahaan, Jay mengandalkan pekerjaan serabutan di sektor konstruksi untuk memenuhi kebutuhannya. Setelah menjadi karyawan subkontraktor, ia memiliki penghasilan yang lebih teratur untuk menopang pendidikan sekaligus membantu orang tuanya.

Sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, ia turut memikul tanggung jawab keluarga. Terlebih, sang ayah telah lama sakit sehingga kebutuhan rumah tangga selama ini ditopang bersama kakaknya.

Sejak akses jalan diblokade, para karyawan berada dalam status standby sambil menunggu arahan manajemen perusahaan. Kondisi tersebut berdampak terhadap penghasilan Jay, karena tidak lagi memperoleh upah lembur seperti saat aktivitas kerja berjalan normal.

“Kondisi standby seperti ini, pendapatan otomatis menurun, karena lembur tidak masuk lagi,” ungkapnya.

Di tengah situasi tersebut, Jay khawatir, sebab dirinya mendengar akan ada
pemutusan hubungan kerja (PHK) atau pengurangan karyawan jika blokade jalan berlangsung lama.

Sebagai pekerja dengan status perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) yang kontraknya diperbarui setiap enam bulan, kabar tersebut menambah kecemasannya. “Ada isu yang beredar, jika ada lockdown beberapa karyawan akan di-PHK atau dikurangi. Kondisi inilah yang kami khawatirkan,” ujarnya.

Bagi Jay, kehilangan pekerjaan bukan hanya berarti berkurangnya penghasilan pribadi. Kondisi itu juga berpotensi mengganggu kelanjutan kuliahnya dan menggangu ekonomi keluarga yang masih bergantung pada penghasilannya.

“Apalagi Bapak sudah lama sakit, jadi saya dan kakak bersama-sama menopang ekonomi keluarga. Jika saya adalah salah satu karyawan yang dirumahkan atau di-PHK, tentu akan kesulitan,” katanya.

Jay bercerita, keberadaan Proyek Awak Mas tidak hanya memberikan manfaat bagi dirinya dan keluarga, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Luwu.

Menurutnya, peran PT MDA terlihat dari pembangunan akses jalan, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal. “Hampir sebagian besar putra daerah bekerja di Awak Mas Project.”

Karena itu, ia berharap persoalan pemalangan jalan dapat segera diselesaikan oleh pihak-pihak berwenang. Baginya, penyelesaian tersebut penting agar aktivitas pekerjaan kembali berjalan normal dan para karyawan tidak terus dibayangi ketidakpastian.

“Kami para pekerja sangat berharap masalah ini bisa segera diselesaikan dan semua bisa bekerja normal kembali,” katanya.

Di tengah ketidakpastian itu, Alquhwais masih memikirkan dan bertanya, “Kalau operasional Awak Mas ditutup, kami mau ke mana?” keluhnya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *