Dinding Lapuk, Atap Berlubang: Potret Keluarga Kurang Mampu di Belopa Menanti Perhatian

Uncategorized17 Dilihat

Jagadnews.id | LUWU — Ketika hujan turun, rasa khawatir menjadi bagian dari keseharian sebuah keluarga di Lingkungan Batu Murrung, Desa Senga, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu.

Bukan karena mereka takut keluar rumah, melainkan karena tempat yang selama ini menjadi pelindung dari panas dan hujan justru sudah dalam kondisi memprihatinkan.

Rumah sederhana yang dihuni keluarga tersebut nyaris tak lagi memenuhi standar sebagai tempat tinggal yang layak. Dinding berbahan papan terlihat lapuk, sementara atap dari anyaman telah rusak dan berlubang di sejumlah titik.

Dari dalam rumah, kondisi kerusakan semakin terlihat jelas. Sinar matahari dapat masuk melalui celah-celah atap, sementara beberapa bagian dinding hanya diperkuat dengan tambalan menggunakan bahan seadanya.

Meski demikian, rumah itu tetap menjadi tempat keluarga tersebut menjalani kehidupan sehari-hari.

Sebanyak enam orang disebut tinggal di rumah tersebut, termasuk seorang bayi yang baru lahir. Keterbatasan ruang dan kondisi bangunan yang sudah tidak layak membuat kehidupan mereka semakin sulit.

Ketika hujan deras mengguyur, mereka bahkan harus mencari bagian rumah yang masih relatif kering agar bisa berteduh.

“Tidak bisa tidur kalau hujan, Pak. Kami duduk saja di pinggir-pinggir,” ungkap Nirwana saat ditemui wartawan, Kamis (8/10/2026).

Kondisi ekonomi keluarga turut membuat mereka kesulitan melakukan perbaikan secara mandiri. Sang suami yang selama ini bekerja sebagai tukang batu kini tidak lagi mampu bekerja berat seperti sebelumnya karena kondisi kesehatannya.

Sementara Nirwana lebih banyak berada di rumah untuk mengurus anak dan kebutuhan keluarga.

Dalam kondisi serba terbatas tersebut, memperbaiki atap maupun mengganti bagian rumah yang sudah lapuk menjadi sesuatu yang sulit diwujudkan.

Nirwana mengaku sebenarnya sudah berupaya mencari bantuan. Ia bahkan telah dua kali mendatangi Dinas Sosial Kabupaten Luwu untuk menyampaikan kondisi rumah yang mereka tempati.

Namun, menurutnya, ia mendapat informasi bahwa program bantuan bedah rumah kini berada di instansi yang menangani perumahan dan kawasan permukiman.

“Saya sudah dua kali datang ke Dinas Sosial, Pak. Katanya anggaran bedah rumah sudah pindah ke Perkim. Saya belum sempat ke sana karena besoknya saya melahirkan. Sampai sekarang belum pernah ke Perkim,” tuturnya.

Kini, keluarga tersebut hanya bisa berharap ada perhatian dari pemerintah maupun pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap kondisi masyarakat kurang mampu.

Mereka tidak meminta rumah mewah. Harapannya sederhana, yakni memiliki tempat tinggal yang aman, atap yang tidak lagi bocor, serta lingkungan yang lebih layak bagi anak-anak mereka.

Program rehabilitasi rumah tidak layak huni atau bedah rumah diharapkan dapat menjadi salah satu jalan keluar bagi keluarga tersebut, tentunya setelah dilakukan pendataan dan verifikasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Kondisi ini juga menjadi potret bahwa pembangunan daerah tidak hanya berbicara tentang jalan, gedung maupun infrastruktur. Di balik perkembangan sebuah daerah, masih ada warga yang membutuhkan perhatian agar dapat menikmati kebutuhan paling mendasar: rumah yang aman dan layak untuk dihuni.

Kini, keluarga di Batu Murrung itu masih menunggu. Mereka berharap ada pihak yang datang melihat langsung kondisi rumah mereka dan membantu mencari jalan keluar sebelum kerusakan semakin parah dan keselamatan penghuni menjadi taruhan.

(*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *