Karhutla Luwu Meluas hingga Malam, Medan Terjal dan Jauhnya Sumber Air Hambat Pemadaman

Uncategorized56 Dilihat

Jagadnews.id | LUWU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Buntu Barru, Desa Lengkong, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Senin (19/10/2026) malam. Api yang terus membesar dilaporkan mulai mendekati permukiman warga.

Kobaran api membakar kawasan hutan, lahan pertanian, dan perkebunan. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 20 hektare. Hingga Senin malam, petugas pemadam kebakaran bersama warga masih berupaya mengendalikan api yang menjalar di kawasan perbukitan tersebut.

Komandan Regu Pemadam Kebakaran Kabupaten Luwu, Hardi, mengatakan pihaknya menerima laporan kebakaran dari warga Desa Lengkong sekitar pukul 14.00 Wita.

“Jadi, kami menerima laporan dari warga, salah satu warga di Desa Lengkong ini pada pukul 14.00 Wita siang hari tadi,” kata Hardi, Senin malam.

Setelah menerima laporan, petugas pemadam kebakaran bersama masyarakat langsung menuju lokasi untuk melakukan penanganan. Namun, upaya pemadaman tidak berjalan mudah karena titik api berada di kawasan perbukitan dengan medan yang terjal.

Hardi menjelaskan, salah satu kendala utama yang dihadapi petugas adalah jauhnya sumber air dari lokasi kebakaran. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman dilakukan secara manual dengan peralatan yang tersedia.

“Mengenai kendala kami, yang pertama itu titik air yang sangat jauh. Jadi, kami melakukan penanganan karhutla bersama masyarakat secara manual di atas bukit,” ujarnya.

Selain keterbatasan sumber air, akses menuju titik api juga sulit dijangkau. Pepohonan dan kondisi medan yang terjal di kawasan hutan menghambat pergerakan petugas saat berupaya memadamkan kobaran api.

Kebakaran yang berlangsung sejak Senin siang itu terus meluas hingga malam hari. Tiupan angin kencang membuat api cepat merambat dan membakar vegetasi di sekitar lokasi.

Kondisi ini menjadi perhatian karena kawasan hutan dan perkebunan yang terbakar berada di bagian atas, sedangkan permukiman warga terletak di bawahnya.

“Yang kami lihat di atas, ada area berhutan cukup luas, perkebunan dan di bawahnya itu permukiman,” jelas Hardi.

Posisi tersebut membuat petugas dan warga terus berupaya mengendalikan api agar tidak semakin meluas dan mengancam permukiman.

Menurut Hardi, luas lahan yang terbakar untuk sementara diperkirakan mencapai 20 hektare. Angka tersebut masih dapat berubah karena kobaran api masih menyala di sejumlah titik saat pemantauan dilakukan.

“Untuk saat ini, perkiraan karena api masih sementara menyala di atas, jadi perkiraan itu hingga saat ini sekitar 20 hektare,” katanya.

Petugas juga menghadapi kesulitan menjangkau bagian atas bukit yang menjadi lokasi kebakaran. Kondisi medan yang terjal serta kawasan hutan yang lebat membuat akses menuju titik api terbatas.

“Kendala kami di atas itu medan yang sangat terjal dan pepohonan hutan. Jadi, kami terkendala tentang akses jalan ke atas karena hutan di puncak,” ungkap Hardi.

Jauhnya sumber air dan sulitnya akses menjadi tantangan dalam upaya mengendalikan kebakaran. Di sisi lain, angin kencang berpotensi mempercepat penjalaran api ke area yang belum terbakar.

Hingga Senin malam, petugas pemadam kebakaran bersama masyarakat masih berjibaku memadamkan api di kawasan Buntu Barru.

Upaya penanganan terus dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas, terutama ke kawasan permukiman warga yang berada di bawah area hutan dan perkebunan yang terbakar.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *